
That means: SINGLE AGAIN. menjadi “kembali lajang” tentu berbeda dengan seorang “masih lajang”. Persepsi orang tentu akan berbeda memandang dua status tersebut. Meskipun ada seorang rekan yang aku kenal, pria 29 tahun, menjadi duda cerai dua kali dan menikah tiga kali, punya anak dari pernikahan kedua dan ketiga namun dia tetap merasa dirinya sama saja ketika masih lajang, menjadi duda, menikah, duda lagi dan menikah lagi: yakni tetap merasa fabulous, hmmm konstan sekali ya. Karena sepertinya tidak ada fase kepercayaan diri menurun dari rekanku satu ini untuk menganggap dirinya keren.
Gaya hidup secara signifikan semakin berubah dengan adanya gadget dan social media. This is a life where I call: Rumor has it. Suatu momen sekumpulan pria lajang, pria menikah dan pria kembali lajang yang berkumpul untuk menyaksikan siaran sepakbola bersama-sama tidak lagi hanya sekedar diisi teriakan ekspresi gol atau kejengkelan karena pemain tampak tidak gesit dalam bertanding ketika mata memandang televisi dan tangan menggengam gadget.
Satu rekan yang baru saja kembali lajang bercerita kalau dia ogah ribet ngurus perceraian apalagi harus ketemu dengan pengacara dan bahasa hukumnya yang dianggapnya bertele-tele itu. Jadi dia memutuskan bercerai secara agama saja. Lalu soal legalitas diri, dia bilang kalau ada kerabat yang memegang jabatan di kantor kecamatan tempat dia tinggal yang bisa membuat status KTPnya menjadi “belum menikah” kembali. Tapi tentu saja kami mengejeknya dengan “but… u know, keperjakan will never be back, hahaha”
Kembali ke masalah multi tasking sembari nonton pertandingan bola. Tangan yang tidak bisa terlepas dari gadget ini-pun mengarahkan otak untuk menstalking 1 rekan kami yang lain apalagi setiap sepuluh menit dia update status FB yang bernada galau, “ow, come on” that’s what i said. Rekan yang kami stalking ini, saat ini sedang menghadapi tuntutan calon mantan istrinya untuk bercerai. Status-status galaunya antara lain seperti “Ingin nostalgia ke kota X…..” (Kota asal istrinya), balada dialog dengan penjual terompet tahun baru yang dianalogikan dengan kisah hidupnya dan bla bla bla lainnya. Entah mengapa, bentuk ekspresi seperti ini yang dimunculkan rekan kami ini di social media inilah yang aku sebut ceng ceng-able. Yah ini patut menjadi sasaran empuk untuk diceng-cengin. Bukan berarti tidak bersimpatik dengan apa yang dia alami tapi melihat drama kehidupannya di social media bukanlah sesuatu yang penting untuk kami ketahui namun menjadi mendadak penting untuk di-stalking dan tentu saja diceng-cengin, NAH.
Menjaga kestabilan rasa percaya diri sebagai “pria keren” setelah menjadi “lajang kembali” memang tidak segampang cara rekan-ku yang aku ceritakan di awal tadi. Tapi yang jelas menunjukkan drama tentang “kembali lajang” yang di-show off pada ratusan umat di akses social media justru makin menurunkan kadar percaya diri. TRUST ME IT HURTS.









