Text

That means: SINGLE AGAIN. menjadi “kembali lajang” tentu berbeda dengan seorang “masih lajang”. Persepsi orang tentu akan berbeda memandang dua status tersebut. Meskipun ada seorang rekan yang aku kenal, pria 29 tahun, menjadi duda cerai dua kali dan menikah tiga kali, punya anak dari pernikahan kedua dan ketiga namun dia tetap merasa dirinya sama saja ketika masih lajang, menjadi duda, menikah, duda lagi dan menikah lagi: yakni tetap merasa fabulous, hmmm konstan sekali ya. Karena sepertinya tidak ada fase kepercayaan diri menurun dari rekanku satu ini untuk menganggap dirinya keren.

Gaya hidup secara signifikan semakin berubah dengan adanya gadget dan social media. This is a life where I call: Rumor has it. Suatu momen sekumpulan pria lajang, pria menikah dan pria kembali lajang yang berkumpul untuk menyaksikan siaran sepakbola bersama-sama tidak lagi hanya sekedar diisi teriakan ekspresi gol atau kejengkelan karena pemain tampak tidak gesit dalam bertanding ketika mata memandang televisi dan tangan menggengam gadget.

Satu rekan yang baru saja kembali lajang bercerita kalau dia ogah ribet ngurus perceraian apalagi harus ketemu dengan pengacara dan bahasa hukumnya yang dianggapnya bertele-tele itu. Jadi dia memutuskan bercerai secara agama saja. Lalu soal legalitas diri, dia bilang kalau ada kerabat yang memegang jabatan di kantor kecamatan tempat dia tinggal yang bisa membuat status KTPnya menjadi “belum menikah” kembali. Tapi tentu saja kami mengejeknya dengan “but… u know, keperjakan will never be back, hahaha”

Kembali ke masalah multi tasking sembari nonton pertandingan bola. Tangan yang tidak bisa terlepas dari gadget ini-pun mengarahkan otak untuk menstalking 1 rekan kami yang lain apalagi setiap sepuluh menit dia update status FB yang bernada galau, “ow, come on” that’s what i said. Rekan yang kami stalking ini, saat ini sedang menghadapi tuntutan calon mantan istrinya untuk bercerai. Status-status galaunya antara lain seperti “Ingin nostalgia ke kota X…..” (Kota asal istrinya), balada dialog dengan penjual terompet tahun baru yang dianalogikan dengan kisah hidupnya dan bla bla bla lainnya. Entah mengapa, bentuk ekspresi seperti ini yang dimunculkan rekan kami ini di social media inilah yang aku sebut ceng ceng-able. Yah ini patut menjadi sasaran empuk untuk diceng-cengin. Bukan berarti tidak bersimpatik dengan apa yang dia alami tapi melihat drama kehidupannya di social media bukanlah sesuatu yang penting untuk kami ketahui namun menjadi mendadak penting untuk di-stalking dan tentu saja diceng-cengin, NAH.

Menjaga kestabilan rasa percaya diri sebagai “pria keren” setelah menjadi “lajang kembali” memang tidak segampang cara rekan-ku yang aku ceritakan di awal tadi. Tapi yang jelas menunjukkan drama tentang “kembali lajang” yang di-show off pada ratusan umat di akses social media justru makin menurunkan kadar percaya diri. TRUST ME IT HURTS.

Text

Bicara tentang kosmopolitan, menurutku lebih merujuk pada menghargai pilihan hidup masing-masing orang dan don’t care dengan urusan pribadi (domestic problem) masing-masing orang. Dalam pertemanan, ketika berkumpul yang dibahas hanya something light and fun mengingat masalah hidup sudah banyak yang perlu diselesaikan setiap harinya.

Namun terkadang, menghargai pilihan hidup orang bertentangan dengan norma yang telah dibentuk oleh adat. Seperti contohnya, banyak masyarakat modern yang sangat enggan kalau keputusannya di intervensi oleh pihak lain. Mereka merasa independen dan tough dalam menjalani hidupnya sehingga intervensi (yang merujuk pada peraturan tak tertulis disebut norma) akan sangat mengganggu.

Satu kejadian nyata yang bisa aku ceritakan di sini tentang impolite vs cosmopolite adalah ketika aku menghubungi seorang rekan lama di Solo sebut saja namanya Robi. Sejak berteman dengannya dari tahun 2003 silam, aku sedikit tahu kalau definisi Cinta buat Robi adalah having sex with many different women without any consequences. Nah, aku kontak Robi untuk menanyakan apakah dia free pada malam menjelang tahun baru mengingat aku sendiri agak bosan melewatkan pergantian tahun di Jogja apalagi pada momen-momen sebelumnya aku lewatkan bersama teman se-geng yang kini aku mengalami krisis pertemanan dengan mereka.

Ketika aku mencoba menelepon Robi, dia tidak mengangkatnya sampai 5 menit kemudian dia SMS:

Robi: hei, sorry just checkin’ my phone, what’s up?

Aku: nothin’ important buddy, just make sure may u’ll be free at d nu year’s eve coz i’m boring to celebrate it in Jogja so ordinary just like before.

Robi: ow, but sorry, i guess i won’t available for any kind of things like hang out with peers at this moment coz I’ll be a father of my son soon. Ow God, can’t believe I tell u!

Aku: (agak kaget karena belum pernah dengar Robi menikah, padahal jarak Jogja-Solo sangat dekat) Great, congratulation, I think u’re still singel and being happy-party freak hahaha

Robi: Singel? of course I am still singel! but becoming a father-to be is my reality and i’m so glad to face it

Aku: (semacam mulut nganga: singel tapi mau jadi bapak, perempuan mana yg dihamili dia?) Nice, I appreciate that, best luck for ur son birth-to be

Sudah, aku hanya merespon sampai di situ saja, aku tidak ingin mengganggu momen yang menurutnya bahagia itu. karena memang dalam dunia kosmpopolitan, kadang hal yang kita anggap baiki belum tentu baik diterapkan oleh orang lain. Kenyatannya memang kosmopolitan dan kesopanan akan sulit dicari titik temunya. Definisi yang sangat absurd menurutku *sigh*.

Text

Bagi kebanyakan orang, seringkali dianggap para perempuan yang lebih rentan menjadi stress untuk menghadapi prasangka belum menikah di usia yang menurut masyarakat “sudah waktunya” namun apakah pria tidak? Bagi saya, memang lebih nyantai bagi para pria untuk melajang apalagi secara statistik jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Memang bagi saya hal tersebut bisa dijadikan justifikasi untuk tidak ambil pusing namun ada fenomena di luar sana tentang reaksi pria lajang terhadap prasangka kehidupan lajangnya.

No offense, tapi sebagai seorang kepo sejati (begitu ngakunya :D) saya pernah melihat update status salah satu rekan, tidak terlalu akrab memang, dia update via twitter sebagai berikut: “so what jomblo? saya ganteng dan kaya” lalu diiringi dengan posting foto-foto yang menunjukkan agenda hura-hura di kafe-kafe mahal. Apabila salah satu dari pembaca merasa pernah mengorientasikan diri seperti itu, pastikan dulu dengan hal yang telah dilakukan melalui update tersebut apakah landasan Anda update berisi pernyataan-pernyataan sebagai berikut:

  • Emang cewek-cewek kebanyakan sanggup nyamain gaya hidup gue?
  • Gue bisa kok care sama gue sendiri
  • Rugi deh gak jadi orang kayak gue yg super fun gini!

Jika memang pernyataan-pernyataan tersebut terbersit di pikiran ketika melakukan uodate tersebut via social media. Hati-hati kalau kita tidak menyadarinya hal tersebut dapat membawa potensi pada karakter psikologi bernama mythomaniac.

Mythomaniac adalah karakter psikologis yang diawali dengan melakukan kebohongan. Bukan untuk mengelabui orang lain melainkan mengelabui diri sendiri. Ya, dengan membohongi diri sendiri si mythomaniac akan merasa yakin bahwa dirinya sudah mencapai titik ideal sesuai dengan persepsi palsu yang disugestikan oleh pikirannya tentang seperti apa dirinya itu. Hal tersebut diorientasikan untuk membangkitkan kepercayaan diri orang tersebut supaya dia dapat meyakini bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya. 

Tanda-tanda apabila seorang pria yang memiliki krisis pede akut dan membawanya sebagai mythomaniac bisa dilihat dari tanda-tanda berikut:

1. Suka membesar besarkan sesuatu

2. Selalu menimpali bahwa dirinya lebih baik dari apapun yang kita ceritakan

3. Menciptakan realitas sendiri untuk dirinya

4. Karena mereka tidak menghargai kejujuran, mereka juga tidak menghargai kepercayaan

5. Bisa jadi seorang hypochondriac juga yaitu orang yang selalu merasa sakit (di buat-buat) ingin diperhatikan

6. Sering kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya

7. Bisa berbohong hanya untuk suatu hal sepele

8. Selalu membesar besarkan setiap kalimat

9. Bisa merubah rubah cerita setiap saat.

10. Sangat defensif ketika dipertanyakan pernyataanya

11. Sangat percaya apa yang dikatakannya benar padahal jelas tidak benar buat orang lain

12. Berbohong ketika sebenarnya sangat mudah untuk menceritakan kebenaran

13. Berbohong untuk mendapat simpati dan terlihat baik

14. Selalu mendapat nilai baik pada pandangan pertama tapi selanjutnya tidak dapat dipercaya

15. Memiliki gangguan kepribadian

16. Jago memanipulasi

17. Ketahuan bohong berkali kali

18. Tidak pernah mengakui kebohongan

19. Menganggap dirinya legenda 

Even if there’s a proverb saying that white lies are good, selayaknya berperilaku seperti mythomaniac tidak akan bisa dikategorikan sebagai white lies. Alih-alih ingin menaikkan kepercayaan diri justru menjadikan pribadi yang dirinya sendiri tidak akan bisa mengenali sisi mana yang menjadi karakter aslinya.

Text

Pergaulan di antara sesama cowok mungkin biasa menyapa dengan kata-kata kasar, hal itu sepertinya tidak akan menyinggung. Tapi jangan coba dilontarkan untuk mengucapkan hal yang berbau tentang karakter kekanak-kanakan. Contohnya seperti ini, 3 tahun yang lalu, sepulang kerja (waktu itu aku masih bekerja sebagai bagian promosi di sebuah konsultan interior) aku mendatangi kontrakan teman semasa kuliah yang berisi 3 orang teman. Saat itu salah satu dari mereka, sebut saja Doni yang bercerita kalau sedang mendekati seorang cewek dengan cara mencari tahu apa kesukaan si cewek (seperti coklat, boneka dan semacamnya itu) untuk diwujudkan sebagai sebuah mini gift pada gebetannya itu.

Lantas, apa yang aku lontarkan? “buset, cara lu pedekate udah kayak bocil SMP aja”. enteng kalimat yang aku lontarkan namun ternyata si Doni ini benar-benar marah. Terlepas apa yang Doni lakukan dalam masalah pendekatan dengan cewek tampak seperti anak kecil, tapi baginya, jatuh cinta adalah urusan pria dewasa, itu ego yang tidak bisa diganggu gugat. Aku memberi justifikasi tentang pernyataan bahwa “Guys are never grown up” atau istilahnya cowok itu tidak pernah dewasa. Tapi aku tidak menerima pernyataan itu begitu saja. Karena apa? karena tanpa dipungkiri, unsur itu yang akan diinginkan setiap perempuan untuk bisa total mewujudkan peran feminin-nya sebagai: “ibu” bagi laki-laki yang dicintainya untuk jadi pendampingnya kelak. Bila salah satu pembaca di sini adalah perempuan yang berprinsip “aku mendambakan pria dewasa” se dewasa apakah si pria yang dimaksud? Kalau yang digambarkan adalah si pria yang pengertian, romantis, sopan bla bla bla maka dia sedang menggambarkan dirinya sendiri, bukan seorang laki-laki » No Offense.

Dan aku akan tetap mencoba objektif di sini, seberapa menyenangkan sisi “boys” dalam diri setiap pria dan seberapa menyebalkan sisi “boys” tersebut.

1. Merajuk:misalnya dulu waktu masih pendekatan, cowok akan sok kuat, tidak ingin terlihat lemah, namun setelah sudah menjadi pasangan, bisa saja masuk angin sedikit menjadi sangat diper- hatikan oleh seorang perempuan yang bsia memberi pancaran aura “keibuan”

2. Sulit meminta maaf:  Pria mendasarkan hidupnya pada prinsip kompetisi dan ingin selalu menang! “itulah sebabnya mereka merasa lebih baik main curang daripada minta maaf. Bagi pria, meminta maaf itu sama saja dengan mengaku kalah,” ujar Helen Fisher, Ph.D, penulis First Sex. Pria memang super gengsi untuk meminta maaf, tapi bukan berarti mereka tak mau memperbaiki kesalahannya. Si dia akan berubah, bersikap manis terhadap pihak perempuan, bahkan memberikan perhatian ekstra. Apa saja yang dia bisa lakukan, yang penting tak harus bilang kata “maaf!”

3. “It’s my time and you’ll never understand” Pria mempunyai suatu ruang waktu yang membuat dirinya nyaman dengan diri sendiri dan akan terkonsentrasi penuh pada hal itu dan terkesan mengabaikan peran wanita di sampingnya. Misal konsentrasinya terhadap pekerjaan, hobinya menonton bola dan macam lainnya. Tapi bukan berarti dia bukan pecinta sejati, dengan sedikit penghargaan terhadap privasi ini, setiap pria akan dengan senang hati memberikan perhatian yang lebih pada momen yang pas.

Sejauh ini ada 3 poin itu yang bisa aku temukan, silakan kalau ada tambahan yang lain lagi. Hal terpenting yang aku simpulkan di sini adalah: setiap detil perencanaan dan langkah yang dijalankan seorang laki-laki bagaimanapun juga hal itu akan kami anggap sebagai tindakan pria dewasa (ego yang terpendam). Jadi kalau ingin mengarahkan kami, tolong jangan gunakan kata “kamu kayak anak kecil” dan kami akan mengerti wanita yang selalu ingin dimengerti.

Ada pemakluman memang ketika seorang perempuan sewot kepada seorang pria dan mengatai si pria seperti anak kecil walaupun hal itu jelas tidak mengenakkan bagi pria manapun. Menjadi cukup krusial apabila sesama pria melontarkan kata-kata bahwa rekan pria yang lain seperti anak kecil, karena berdasar pada rasa sebagai sesama “anak kecil” maka hal ini kurang bisa ditoleransi oleh si pria yang dianggap seperti anak kecil tersebut. Perlakuannya seharusnya sama saja, gunakan kata lain untuk mengarahkan pola pikir sehingga ada saling menghargai peers, atau sesama rekan pria yang ingin maju serta berkembang menjadi sama-sama pria dewasa.

Text

Popularity

Anda seorang pria pekerja yang berusaha mencari nama Anda sendiri dalam google search? “Sudah seberapa eksiskah aku?” Pertanyaan itu menjadi hal yang krusial bagi pria lajang yang memiliki ambisi untuk memegang peranan penting dalam lingkungan sosialnya. Kepopuleran dalam ambisi pria tidak hanya sebatas  memiliki banyak fans atau idola melainkan juga seberapa dia dikenal kredibel untuk menjadi seorang yg berpengaruh (berkuasa). Itulah sebabnya, pernah ada sebuah media yang menyampaikan bahwa presiden SBY kalut seiring dengan menurunnya kepopularitasannya. Hal tersebut semacam krisis yang mendera karena ego seorang pria dipertaruhkan di sini.

Money

Dalam janji pernikahan yang etrcantum dalam akta nikah ada bagian janji suami yang menyatakan “bila saya tidak sanggup menafkahi istri saya dan…… Itu hanyalah satu dari sekian faktor yang membuat seorang pria memiliki ambisi tersendiri terhadap materi. Sekali lagi arahannya adalah untuk membuktikan dedikasi-nya sebagai seorang pria bahwa dia “mampu” memberikan penghidupan pada perempuan yang dicintainya. Tanggung jawab dan ego berbatasan tipis di sini.

Sex

Ini yang sering aku dapatkan dari pengamatan terhadap sebagian besar pria, baik abg, lajang maupun paruh baya. Hal yang sedikit fake menurutku adalah ketika kebanyakan pria berpikir alat kelamin mereka adalah sesuatu yang sangat vital, padahal kata vital pada sesungguhnya tidak merepresentasikan alat kelamin pria sama sekali. itulah kenapa, ketika pria gagal memenuhi obsesinya dalam Popularitas dan Money maka dia pola pikirnya akan terdistorsi dengan asumsi Sex-pun dia akan gagal. Hal ini karena kebanyakan pria masih menempatkan Sex sebagai prioritas utama dalam obsesi mereka. It’s the UGLY TRUTH :)

Text

Setulus apakah pertemanan di kantor? Hampir tidak ada kalo aku jawab. Tapi bukan berarti tidak bisa lho ya. Karena aku sendiri punya sahabat yang berawal dari pertemanan di kantor. Namun seseru-serunya bergaul dengan sama-sama teman cowok di kantor, tidak adakah persaingan?

Memang, banyak employee community saat ini dibentuk untuk menjaga kekompakan tim seperti futsal, bersepeda, bulu tangkis dll. Dari hasil pengamatanku, kekompakan itu berhasil di-set oleh korporat untuk terbentuk secara official (berorientasi pada loyalitas terhadap pekerjaan saja). Lalu bagaimana dengan kondisi internal para eksekutif pria yang menghadapi perasaan “tersaingi” dengan sejawatnya? Terkadang, justru alur perusahaan mencoba untuk mengkompetisikan mereka sehingga secara vulgar aku katakan: akan ada sistem gugur di sini.

Ferdi dan Galang, mereka seumuran, satu masa uji coba ketika masuk ke sebuah perusahaan BUMN ini. Mereka sempat merasakan bersama rekan yang lain tinggal satu kontrakan, pertemanan yang solid karena merasa senasib sepenanggungan.

After years…. Bagaimanapun juga Ferdi dan Galang berada pada divisi yang berbeda dimana satu divisi akan melakukan pushing ke divisi yang lain demi output maksimal ke publik. Dalam kondisi hierarki seperti ini, lama kelamaan, ikatan pertemanan yang dulu merasa senasib sepenanggungan tidak akan dianggap berlaku lagi oleh kedua belah pihak secara tersirat. Yang akan muncul adalah azas “rumput tetangga lebih hijau”. It’s a phenomenon, just like Keane’s song “Everybody’s Changing”

Okey hunks, so udah saatnya kita gak jadi pria naif dalam pergaulan di kantor. Jangan mengeksplorasi sisi-sisi sensitif tentang dirimu ke rekan kerja, apalagi yang seumuran meski terkadang, rekan sejawat terasa akan lebih mengerti tentang kita. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Meski kita harus beware, bukan berarti kita harus selalu menaruh curiga ke orang lain terus menerus. Yang terpenting adalah komunikasi efektif dan proporsional dalam bergaul di lingkungan kantor. have a great work for us!

Text

Sepengetahuanku, kata narsis mulai populer tahun 2005-an yang saat itu, bahkan hingga kini menggambarkan seseorang yang sangat percaya diri untuk mengekspos dirinya (diasumsikan social media). Namun melalui artikel ini, aku ingin mengambil contoh kenarsisan seorang cowok yang sebenarnya adalah refleksi dari rasa rendah diri yang cukup akut. How come?

"Udah deh, aku tau kamu tebar pesona ama cowok-cowok lain beb, ama temen-temenmu yang sarjana itu, yang pegawai kantoran itu" » Ini adalah salah satu ungkapan yang dilontarkan seorang cowok berusia 30 tahun, bekerja sebagai seorang barista di sebuah kafe franchise dari Amerika kepada pacarnya, 24 tahun yang bekerja sebagai seorang marketing perusahaan provider selular.

Sebut saja si cewek ini bernama Vina, aku sempat bertanya pada Vina “cowokmu begitu cemburuan, apa memang dia gak pernah celamitan ama cewek lain?”

Vina menyampaikan kalau cowoknya sangat narsis, dia bangga karena merasa seperti cowok berusia 20an sebab banyak yang bilang kalau dia masih imut. Lagipula lingkungan kerjanya juga mendukung untuk dia berpikir seperti itu, ya iyalah yang namanya barista kebanyakan adalah mahasiswa part timer dengan usia 18 - 24 tahun. Dengan asumsi publik seperti itulah maka si Bimo pacar Vina ini sering bertingkah seperti cowok abg untuk menggoda cewek-cewek lain.

Bahkan bila memang Vina biasa tebar pesona dengan rekan-rekan kerjanya atau dengan pria manapun selain Bimo, toh Bimo juga melakukan hal yang sama. Mereka 11-12 alias sama saja. lalu apa yang mendasari Bimo menjadi begitu cemburuan dengan Vina?

Kamu simak kutipan kata-kata yang sering dilontarkan Bimo di atas. Hal itu menunjukkan Bimo yang sangat rendah diri. Karena dari Vina, aku tahu kalau Bimo putus kuliah bukan karena dia tidak mampu secara biaya, Bimo anak orang kaya. Melainkan karena dia keasikan dengan dunia-nya sebagai barista kafe, tempat dimana dia bisa bekerja sekaligus bermain (kembali seperti cowok, bukan pria).

Di sisi lain, Bimo melihat Vina kerja kantoran, dengan rekan-rekan kerja pria-pria metroseksual yang cerdas, bagi Bimo hal tersebut tampak begitu hi-class.

Simpulannya adalah jelas Bimo menjadi pencemburu karena dia rendah diri merasa tidak sebanding dengan Vina. Tapi Bimo juga terjebak di zona nyaman dengan anggapan publik di lingkungan kerjanya bahwa dia adalah “cowok lucu yang menyenangkan”

Dear friends, bukankah sudah tidak menjadi rahasia lagi kalau lingkungan itu mampu membentuk pola pikir. Dan pola pikir itu adalah pilihan. Thus, u are what u want to be…!

Answer
  • Question: Tania: bisa gak to buat komen langsung di artikelnya? ato musti masuk ke forum discussion? Thx - Anonymous
  • Answer:

    Iya, semuanya masuk ke forum diskusi ya Tania, kecuali kalau dirimu ada akun tumblr… u’re welcome

Text

Aku sempat menulis status di FB-ku “Masa depanku kayak gimana ya?” Memang aku lulus dengan IPK cumlaude tapi aku belum kerja, atas permintaan orang tuaku, akupun melanjutkan S2. Di satu sisi, aku minder dengan Endah, pacarku yang sudah bekerja.

Hal yang menghantui pikiranku adalah: jadi cowok kok aku belum bisa mandiri ya. Kelas kuliah baru saja selesai, HPku yang masih silent mode bergetar, ada sms dari Putra. Git, ntar MU x Wigan maen jam 3 sore GMT, kalo di sini jadi jam brapa? Yah, kebetulan aku sedang kehabisan pulsa, kemungkinan sms itu akan aku balas nanti saja, lagipula perut sudah begitu lapar, aku mau lunch dulu baru nanti beli pulsa.

Aku memesan gado – gado dengan minum es jeruk di foodcourt kampus. Rasanya memang tidak bisa, untuk sedikit saja tidak berhubungan sama dunia maya. Kubuka laptopku dan ku-konek-kan ke wireless. Seperti biasa, ritual wajib: meng-update FB-ku. Di bagian request, aku lihat ada relationship request. Endah memintaku untuk approve permintaan bahwa kami in a relationship. Selama ini, aku emang menulis singel di statusku. Buat aku sih bukan masalah-lah menulis masih lajang, lagipula kan aku memang belum kawin. Tapi kemungkinan Endah merasa was – was kalau aku tetap menulis status sebagai “singel”. Ya sudah, aku approve saja.

“Hei beb, sendirian aja” Aku dikagetkan oleh sebuah cubitan di pipi kananku sama si Lolitya. “Eh, sakit tau mut” Jawabku cengar – cengir sambil ngelus – elus pipiku. “Ya ampun, kamu manggil aku apa? Imut? Idih pasti gemes ya ama aku, hehe?” Pfiuh, si Loli ini makin kepedean tampaknya, tapi bagaimanapun juga dia emang imut sih.

“Maksudku, mamooth, semacam gajah purba, yahaha…” Aku meledeknya.

“Ga pa pa sih, anggep aja panggilan sayang, oops, lupa deh kalo ada bu bidan…” Kayaknya, si Lolitya ini mancing – mancing.  Sekali lagi aku cuma nyengir aja.

“Eh beb, liat deh potongan rambutku yang baru, bagus kan? Kita foto bareng yuk, skalian ini kebanggaan buat kamu, bisa foto dalam rangka mengabadikan perubahan gaya rambutku, okey” Lolitya mengeluarkan HPnya lalu dia mendekatkan mukanya ke mukaku untuk ngajak berpose dan aku, of course dengan senang hati berpose sama dia.

“Ntar aku tag di fesbuk ya!!” Lolitya memasukkan HPnya lagi ke dalam tas lalu dia memesan jus alpukat. Selama hampir satu jam untuk menunggu kelas berikutnya, aku masih ber-haha hihi sama Lolitya di foodcourt kampus.

—-

Jam sepuluh malem, Putra datang ke rumah kontrakanku. Tadi aku memberi tahu ke dia via sms kalo pertandingannya MU tayang jam 11 malem di Star Sport.

“Si Rio ga ikutan Git?” Rio itu sepupuku yang tinggal satu kontrakan sama aku. Tipikal anak gaul yang hobi hura – hura. Aku kenal Putra yang ternyata fansnya MU gara – gara jadi sopir plus asistennya Rio sewaktu dia jadi MC di acara kantornya Putra.

“Dia lagi maen bilyard Put ama temen – temnnya” Jawabku sambil mengunci pintu rumah. Eh baru mau memasang helm di kepala, mendadak HPku bunyi. “Iya sayang…” kuangkat telepon dari Endah. “Mas, blom ngantuk ya?” “blom, kamu?” “lumayan sih, tapi aku lagi miss you so muuuuch” “sayang, aku juga kangen kamu” Aku liat si Putra udah ga sabar buat buru – buru berangkat. “Kamu lagi ngapain Mas sekarang?” “Mau nonton bola ke Empire” “ya ampun sayang, kamu minggu depan kan ujian Mas, kok malah malem – malem gini maen? Kalo sakit gimana?” “yah, tapi nonton bola kan ngilangin stress nah kalo ga’ stress kan badan juga bakalan baik – baik aja, lagian ini kan jumat, besok kuliah libur” “kalo gitu besok kita malem mingguan ya, jangan ada alesan banyak tugas lagi” Aduh, jangan-jangan Endah ngambek. “Iya – iya pasti, besok Mas ke rumahmu… sekarang sayang tidur dulu ya” “Ya udah, oke deh, met nonton, moga – moga MU menang, biar Mas tambah seneng” “Love you Endah…” “Love you too…” Begitu aku naik ke boncengan motornya si Putra, dia langsung tancap gas.

***

itu hanya sebagian kecil kejadian yang sering ditemui, cowok punya pacar tapi masih senang kalau digilai oleh cewek lain sebagai fans mereka dan berharap si pacar memaklumi kelakuannya tersebut. Apa kamu termasuk kriteria cowok seperti itu? Atau mungkin pembaca adalah seorang cewek yang punya cowok seperti itu? Just let me know….

Text

 

Tanpa bermaksud menyinggung Choderlos de Laclos…

Dalam hal apa? Waits, bagi yang belum familiar, aku perkenalkan dulu, seorang sastrawan Perancis abad ke 18 favoritku, Pierre Ambroisse Francois Choderlos de Laclos.  Buku yang ditulis hanya satu “Les Liaisons Dangereuses” dan cerita yang dibuat oleh penulis satu ini sudah aku nikmati sejak kelas tiga SMP lewat film Cruel Intentions. Finally, setelah sekian tahun mencari novelnya, akhirnya aku dapatkan juga pertengahan Januari 2008 lalu di Gramedia Sudirman – Jogja

Tanpa bermaksud menyinggung Choderlos de Laclos…

Setelah mulai eksplor lebih lanjut tentang buku ini, akhirnya aku tahu kalau tokoh Vicomte de Valmont (Sebastian Valmont – dalam Cruel Intentions) adalah refleksi dari karakter dasar sang penulis (aku tidak tau soal yang karakter gila sex apakah sama atau tidak). Hanya saja banyak sumber mengatakan kalau de Laclos yang sangat ingin mengkritik dan mengecam aristokrasi Perancis yang absolut (sebelum revolusi) ini punya rasa defensif yang cukup tinggi tentang “Apa itu Cinta”. Sejarah biografi mengenai de Laclos juga mengatakan bahwa dia pasif menulis ketika telah menemukan cintanya dan menikah, itulah sebabnya Les Liaisons Dangereuses selesai dan tidak ada buku karya de Laclos setelah pernikahan bahagianya tersebut.

Tanpa bermaksud menyingung Choderlos de Laclos…

Aku coba analisis tentang kisah yang dialami Valmont, kenapa tokoh Valmont harus dibuat mati setelah tidak lama dia menemukan cintanya dan hubungannya dengan de Laclos yang berhenti menulis setelah menikah.

Menurut  aku, Choiderlos de Laclos yang mungkin sebelum menikah adalah orang yang defensif  akut terhadap cinta karena background dia yang militer dan mungkin idealismenya yang sangat kuat mengenai bobroknya aristokrasi Perancis sebelum masa revolusi membuatnya sangat ekspresif ketika menulis Les Liaisons Dangereuses ini, novel pertama sekaligus terakhirnya. Setelah menikah, kehidupan cintanya lebih berwarna, sehingga ekspresi kebenciannya akan lingkungan sosialnya yang pernah dituangkan dalam novel akhirnya terkikis dan hilanglah moodnya untuk menulis karena moodnya menjadi indah.

Jadi, menurutku, kenapa de Laclos membuat tokoh Valmont mati pada bagian endingnya setelah dia menemukan cintanya pada Presidente de Tourvel, karena de Laclos juga “mati” ide untuk menulis  setelah jatuh cinta. Selain itu, de Laclos tidak membuat Valmont hidupnya berakhir karena kecelakaan mengalami kematian yang begitu menyedihkan karena sudah ada cinta di sekitarnya. Dalam arti lain, mengingat latar belakang budaya penulis yang dipengaruhi oleh agama Nasrani, sesuai dengan kepercayaan agama tersebut, orang Nasrani yang mati akan naik ke Surga bersama Yesus. Analogi yg menurutku ingin diambil oleh de Laclos adalah: Valmont setelah menemukan cintanya kemudian mengalami kecelakaan tragis, namun begitu dia telah merasa bahagia, lagipula setelah kematiaannya dia percaya akan naik ke Surga. Demikian pula dengan Choderlos de Laclos yang walaupun dia “mati” menulis tapi dia telah menerima kebahagiaan yang membuka tabir defensi-ismenya setelah menikah dan menemukan cintanya.